TOMIRA: Minimarket Rakyat Kulon Progo, Gusur Alfamart

Tidak ada komentar 2010 views
Tomira, Toko Milik Rakyat

Tomira Kulon Progo, Gusur Alfamart

Jaringan minimarket swasta berskala lokal maupun nasional mulai mengekspansi seluruh wilayah di Indonesia. Tak terkecuali di kabupaten Kulon Progo, minimarket seperti Alfamart dan Indomart telah menanamkan akarnya di hampir semua wilayah. Keberadaannya yang sering bersinggungan dengan toko maupun pasar rakyat, sering menimbulkan kecemburuan bagi para pedagang dan pelaku usaha. Hal ini disebabkan modal yang besar membuat mereka mudah menentukan lokasi strategis, fasilitas, kelengkapan produk, hingga kenyamanan berbelanja secara maksimal.

Tak ingin terus kalah saing sekaligus melindungi produk lokal dengan tagline Bela Beli Kulon Progo dan mensejahterakan rakyat, Pemkab Kulon Progo mengeluarkan Perda No 11 tahun 2011. Perda tersebut mengatur “Perlindungan pasar tradisional serta penataan pusat perbelanjaan dan toko modern”. Bahkan pada pasal 14 huruf C, memaksa minimarket berjejaring tak berkutik menghadapi gempuran rakyat Kulon Progo melalui Pemkab. Karena dalam pasal 14 huruf C disebutkan, “Toko Modern yang berstatus waralaba dan/atau berstatus cabang tidak boleh berjarak kurang dari 1.000 m (seribu meter) dengan Pasar Tradisional.”

Konsekuensi dari peraturan tersebut, semua minimarket modern dengan jarak kurang dari 1.000 meter harus menentukan pilihan, yaitu tak diperpanjang izin, tutup, atau pengambil alihan oleh Koperasi (take over).

Salah satu minimarket yang memilih untuk take over, yaitu Alfamart. Tujuannya untuk memberdayakan perekonomian masyarakat yang bersifat kemitraan dengan Koperasi maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sehingga dapat menjadi minimarketnya rakyat Kulon Progo. Wujud nyatanya dengan membangun program Toko Milik Rakyat (Tomira). Hal ini juga disepakati melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara pengelola Alfamart, yaitu PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dengan Pemkab Kulon Progo pada hari Senin, 1 September 2014.

Mengapa Harus Tomira?

Sitem lama melalui waralaba terasa kurang menguntungkan bagi Koperasi maupun UMKM dibandingkan dengan Kemitraan. Sebab pada sistem waralaba branding hanya terfokus pada Alfamart, karyawan 100% dari Alfamart dan label barang yang dijual 100% dari Alfamart.

Sedangkan sistem kemitraan melalui take over memberi manfaat lebih besar untuk koperasi maupun UMKM. Sebab branding toko bisa dikombinasi antara Alfamart dan koperasi dengan memberi nama Tomira dan karyawan dari Koperasi. Keuntungan utama sistem Kemitraan Tomira dapat menjual produk lokal dari Kulon Progo, misalnya pangan industri rumah tangga (P-IRT), kerajinan tangan dan sebagainya. Lebih dari itu hak kekayaan intelektual (HKI) menjadi diakui.

“Tomira ini menggerakkan perekonomian rakyat. Karena produk lokal bisa dijual di sana,” menurut Bupati Hasto Wardoyo pada peringatan Hari Otonomi Daerah ke-20 di Alun-alun Wates, Kulon Progo, Senin, 25 April 2016

Pola kemitraan juga bermanfaat untuk pelatihan secara langsung bagi anggota koperasi dalam pengembangan dan pengelolaan toko modern. Sehingga kualitas SDM meningkat, terjadi transfer teknologi, dan transfer pengetahuan (knowledge).

Selain hal diatas kelebihan Tomira menurut Dinas Koperasi dan UMKM Kulon Progo, dapat mendukung kesuksesan program penanggulangan kemiskinan di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Dengan cara menyisihkan laba untuk melaksanakan kegiatan pendampingan UMKM dan pendampingan sosial masyarakat, diantaranya kegiatan bedah rumah, beasiswa untuk siswa kurang mampu, dan kegiatan sosial lain yang telah berjalan.

Syarat Take Over Alfamart menjadi Tomira

Kriteria take over alfamart oleh koperasi untuk menjadi Tomira

take over alfamart oleh koperasi

Untuk melakukan take over Koperasi  harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Badan hukum Koperasi di Kulon Progo.
  2. Beralamat di wilayah terdekat alfamart yang akan di take over (ada surat pernyataan dari Koperasi untuk membuka kantor pelayanan atau menambah anggota di wilayah alfamart).
  3. Mempunyai unit usaha pertokoan yang tertuang dalam Anggaran Dasar Koperasi.
  4. Koperasi aktif (telah melaksanakan RAT dalam tahun terakhir, partisipasi anggota berjalan baik, pengurus dan pengawas telah melaksanakan tugas dan fungsinya).
  5. Kelayakan usaha koperasi berjalan baik (ada keuntungan, kesejahteraan karyawan terpenuhi, ada modal tetap di unit pertokoan, SDM yang mampu menangani unit pertokoan.
  6. Mempunyai izin usaha teknis (SIUP, TDP dll) sesuai usaha yang telah dilakukan.
  7. Mempunyai NPWP dan tertib perpajakan.
  8. Mempunyai rekening bank atas nama Koperasi.

Pertumbuhan Tomira

Sampai saat ini telah berjalan tujuh unit Toko  Milik Rakyat hasil take over Alfamart, berikut daftarnya:

  1. Tomira Jombokan yang dikelola Koperasi KSU Binangun Prima.
  2. Tomira Dekso dikelola Koperasi Koppaneka.
  3. Tomira Bendungan dikelola Koperasi KSU BMT Giri Makmur.
  4. Tomira Temon dikelola Koperasi KSU Trijata.
  5. Tomira Lendah dikelola Koperasi KSU Legowo.
  6. Tomira Proliman dikelola Koperasi KPN Sumber Rejeki.
  7. Tomira Kijosuta dikelola Koperasi Mitra Prima Daya.

Namun tak hanya berhenti pada tujuh Toko Milik Rakyat di atas, kedepannya sudah ada tujuh Alfamart lagi yang siap di akuisisi. Seperti diungkapkan oleh Bupati Kulon Progo pada evaluasi operasional Tomira tanggal 18 Januari 2016, “Dari 14 toko (gerai), saat ini sudah tujuh. Mudah-mudahan nanti terealisasi semuanya.” Hasto juga mendorong supaya ada koperasi yang membangun toko berjejaring secara mandiri.

Desain Bangunan Tomira

Desain dari bangunan Tomira sudah pasti mirip, karena hanya menganti brand nama dan sedikit warna dari bangunan awal alfamart.

Bangunan Tomira

Bangunan Toko Milik Rakyat

Barang Jualan Tomira

Saat ini Tomira telah menjual 20 produk lokal UKM Kulon Progo, dari sekitar 60 UKM yang ingin menjajakan produknya. Sebab produk yang di jual wajib memenuhi standar kesehatan dan perizinan yang telah ditentukan pemerintah terlebih dahulu. Seperti sertifikat izin pangan industri rumah tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan Kulonprogo. Target kedepannya produk yang dijual minimal 50 persen produk lokal.

Menurut Dalduri sebagai salah satu pengelola, “Saat ini produk UMKM yang dijual sudah lumayan banyak, diantaranya kripik pegagan, ikan krispi, wingko ijo, keripik belut dan lainnya. Hanya saja beberapa bentuk kemasan produk masih ada yang kurang menarik, namun sudah diusahakan untuk diperbaiki supaya produk UMKM tersebut bisa memenuhi standar untuk dijual di Tomira.”

Bupati, Karyawan, periksa barang jualan Tomira

Bupati memeriksa barang jualan Toko Milik Rakyat

Contoh produk jualan Tomira

Produk UMKM yang dijual Toko Milik Rakyat

Itulah kabar baik dari inovasi daerah Kabupaten Kulon Progo untuk Indonesia. Semoga dapat dijadikan percontohan bagi daerah lain untuk membendung maraknya minimarket modern berjejaring yang mematikan produk dan usaha masyarakat lokal. Melalui Tomira tak perlu lagi takut kalah saing dengan pengusaha besar, kita dapat bekerjasama bahkan memaksanya untuk mengakomodir produk UMKM.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

author
Penulis: 
Seorang pendatang baru di dunia blogging, namun telah berpengalaman dalam jasa Review, Placements, Content Writer. I'm Blogger!

Tinggalkan pesan "TOMIRA: Minimarket Rakyat Kulon Progo, Gusur Alfamart"

*